TERNYATA SEMUA ANAK TPA CERDAS

Sejalan dengan berjalannya waktu, kecerdasan sebagai sebuah teori terus mengalami berbagai perubahan dan penambahan. Berbagai penelitian terus dikembangkan, sehingga berbagai teori terus bermunculan.

Pada awalnya kita memahami kecerdasan itu dari IQ (Intellectual Quotient). Kita menganggap seseorang itu cerdas jika mempunyai IQ tinggi, dan begitu sebaliknya jika seorang itu bodoh berarti mempunyai IQ yang rendah. Kemudian muncul teori Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk) dari Gardner, yang kemudian memicu terhadap berkembangnya kesadaran akan adanya kecerdasan-kecerdasan baru selain kecerdasan intelektual.

Berbagai teori kecerdasan pun akhirnya bermunculan, seperti EQ (Emotional Intelligence) yang dikembangkan oleh Daniel Goleman, CQ (Creative Quotient), SQ (Spiritual Intelligence) oleh Danah Zohar dan Ian Marshall.

Multiple Intelligence (kecerdasan majemuk) sebagaimana yang dicetuskan oleh Gardner, memberikan gambaran bahwa kecerdasan manusia itu lebih kompleks dari sekedar kecerdasan intelektual. Setiap manusia bahkan memiliki berbagai jenis kecerdasan dengan tingkatan kecenderungan yang bervariasi. Menurutnya ada delapan jenis kecerdasan yang kemudian masih memungkinkan untuk ditambah dan dikembangkan. Kedelapan kecerdasan tersebut adalah; kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial-visual, kinestetik, musikal, interpersonal, intra personal dan naturalis; dan yang perlu dicatat bahwa, masing-masing kecerdasan yang dimiliki dan menonjol dalam setiap orang tidak bisa dibandingkan! Berdasar dari konsep ini maka pada hakekatnya setiap orang adalah cerdas.

Dari berbagai konsep tentang kecerdasan tersebut kemudian berkembang pula alat tes yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Menurut Thomas Armstrong Ph.D, penulis buku The Myth of the ADD Child, In their Own Way dan Awakening Your child’s Natural Genius menyatakan bahwa ada dua bencana besar yang menimpa sumber daya manusia Amerika yang berkaitan dengan pelaksanaan tes kecerdasan, yaitu;
 a. Penerapan Closing Test, diawali tahun 1900 oleh Alfred Binet, yang kemudian kita kenal dengan
     tes IQ. Berdasarkan alat tes ini,kecerdasan seseorang dapat dilihat dengan sebuah angka atau nilai
    dari alat tes yang bersifat tetap, statis dan tidak berubah. Konsep ini ditentang oleh Gardner,
     karena  kecerdasan manusia itu bersifat dinamis dan dan kompleks dari sekedar IQ.
 b. Penerapan Disability Test, yang awali tahun 1960-an sampai 1980-an oleh Samual Kirk. Konsep
     ini mengembangkan bahwa manusia harus ditemukan kelemahannya, dan kemudian diberi label: 
     LD (kesulitan belajar spesifik), ADD (sulit berkonsentrasi), dan ADHD (hiperaktif).

Ahmad Zaenal Fanani dalam bukunya Change Now mengutip pernyataan Thomas Armstrong, pakar Multiple Intelligences bahwa tidak ada satupun tes canggih di masyarakat yang dapat menghasilkan survei komprehensif mengenai kecerdasan, khususnya kecerdasan majemuk. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengatakan pada anda bahwa ia memiliki tes terkomputerisasi yang hanya dalam lima belas menit dapat menunjukkan suatu diagram tentang berapa tingkat kecerdasan anda, saya sarankan anda harus berhati-hati dengan tes tersebut !

B. MULTIPLE INTELLIGENCES RESEARCH (MIR)
Makhluk apakah MIR ?
 MIR adalah sebuah research (penelitian) yang berfungsi untuk :
 1. Mengetahui jenis kecerdasan seseorang (bukan tingkat kecerdasan).
     MIR berupa seperangkat alat yang digunakan untuk mengetahui habit (kebiasaan) seseorang
     sehingga dengannya dapat dianalisa dan diketahui jenis-jenis kecerdasan. Hasil analisanya pun
     bukan berupa interval angka, tetapi berupa jenis kecerdasan yang dimiliki setiap orang yang
    digambarkan dalam bentuk flow dan bersifat dinamis.
2. Mengetahui gaya belajarnya. Dari berbagai teori tipe belajar, pendekatan yang sering dipakai
    adalah pembagian berdasarkan tiga gaya belajar, yaitu;
    a. Gaya belajar Visual (lebih dominan menggunakan indra penglihatan, seperti gambar, tulisan)
    b. Gaya belajar Auditorial (dominan menggunakan indra pendengaran, yaitu berupa bunyi, suara,
        musik atau pembicaraan lisan)
    c. Gaya belajar Kinestetik (dominan belajar dengan praktek langsung, gerakan)

Kegunaan MIR bagi Guru
1.Dapat menjadi pedoman bagi guru untuk melihat kecenderungan kecerdasan siswa sehingga dapat disesuaikan gaya mengajar guru.
2.Dapat digunakan untuk pembagian kelas sesuai dengan kecenderungan kecerdasan.
3.Dapat digunakan sebagai data riwayat kecerdasan setiap siswa pada riset berikutnya.
 4.Dapat digunakan untuk memilih jurusan di perguruan tinggi

Kegunaan MIR bagi Orang Tua
1.Katalisator, sebagai pemantik kreatifitas anak.
2.Fasilitator, sebagai sumber informasi untuk orangtua dan anak tentang kebiasaan yang perlu
   dikembangkan.
3.Dapat mempercepat anak menemukan kondisi akhir terbaiknya.

MIR dalam Penerimaan Siswa Baru
Hal-hal yang perlu menjadi catatan dari penggunaan alat MIR dalam rangkaian Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau yang biasa disebut Penerimaan Siswa Baru (PSB) yaitu:
1. MIR bukan alat seleksi masuk, ia bukan alat ukur tingkat kecerdasan dan kelayakan untuk
    kemudian dinyatakan diterima atau tidak diterima pada sekolah tertentu
2. MIR dilakukan setelah peserta didik dinyatakan diterima menjadi siswa baru di sekolah
3. Sebagai sebuah research, MIR menggunakan beberapa instrumen berupa soal yang harus dijawab
    oleh anak dan orang tua tentang kebiasaan sehari-hari.
 Berkaitan dengan ini maka; orang tua harus memberikan jawaban yang sebenarnya tentang kondisi anak karena yang ditanyakan adalah kebiasaan anak, maka tidak ada jawaban yang salah Ketidakjujuran dalam memberikan keterangan akan menghasilkan kesimpulan yang salah dan akan merugikan baik kepada guru, siswa yang bersangkutan dan orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s